Hari Terakhir Menyusui



Malam ini adalah hari terakhir saya nyusuin Opan. Setelah beberapa minggu sebelumnya saya selalu sounding ke dia, "Opan.. Pas 2 tahun nanti udah minum susu dari gelas yaa" yang seringkali dibalas dengan celoteh "gak mau" sambil tangan kecilnya sibuk ndusel ndusel ke arah nenen, akhirnya malam ini saya membulatkan tekad bahwa ini adalah hari terakhir saya menyusui Opan. 

Seperti ritual tidur malamnya yang sudah-sudah, setelah sikat gigi dan berganti baju tidur, lampu kamar saya matikan. Dia sudah ambil posisi nenen di kasur, saya berbaring di sebelahnya dan memeluk dia dengan erat.

Nak, malam ini menyusu lah sepuasnya. 

Saya perhatikan wajah mungilnya yang sedang asik menyusu. Dia, seperti biasa menikmati momen menyusunya tanpa tau bahwa ini adalah kesempatan dia yang terakhir. Tangannya yang imut bermain-main di wajah saya, kadang dengan jahilnya masuk ke lubang hidung, dan begitu tau saya melihat ke arahnya, dia tertawa kecil seolah mengajak bercanda. Saya tersenyum pahit, berusaha menahan air mata yang sebentar lagi bakal tumpah menyadari bahwa mulai besok gak akan ada lagi pemandangan seperti ini. 

Terbersit di kepala, Dibandingin sama dia, kayaknya saya yang bakal lebih kangen sama momen ini. 730 hari.. berasa singkat banget begitu semuanya berakhir, ya kan? 

Dua tahun lalu, dia belum bisa menyusu dengan benar, thanks to his liptie, bahkan sampai usianya nyaris satu bulan, dia masih selang seling antara nenen langsung dengan minum ASI perah yang saya berikan lewat pipet. Tapi dia gak pernah nyerah untuk terus mencoba. Bahkan di sesi konseling di klinik laktasi dia berusaha membuktikan bahwa kemampuan menghisap dia cukup baik. I was so proud of him that day.

"Cuma perlekatannya aja Bu yang mesti diperbaiki" Begitu kesimpulannya.

Hari demi hari, saya dan dia sama-sama berjuang untuk bisa nenen langsung di tengah banyaknya tuntutan untuk memberikan sufor karena berat badannya yang kurang naik signifikan di bulan pertamanya. Sampai akhirnya di minggu ke 5 berat badannya naik sangat banyak.  He is indeed such a fighter. 

730 hari.. Dan secepat itu dia tumbuh besar, dari yang awalnya gak bisa nenen sampai nenen gaya akrobatik dimana setengah badannya naik ke pinggang saya sementara mulutnya masih menyusu. Semakin saya ingat tingkah gemas saat menyusui, semakin berlinang air mata saya. 

Nak.. Terima kasih banyak ya karena selama dua tahun ini Opan gak pernah menyerah sama Ama sebagaimana Ama gak akan pernah menyerah sama Opan. Tidur yang nyenyak ya sayang.. Besok ada tantangan baru yang harus kamu taklukkan. Pasti kamu kaget dan sedih.. Tapi Opan harus tau satu hal.. Sesi nenen kita mungkin terbatas, tapi tidak dengan cinta dan sayang Ama.

Love,
Ama






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yuk Kenalan Sama Kartu Suplementasi Ibu Hamil

Icip-Icip Kuliner Timur Tengah di Ajwad Resto

Mamah-mamah Muda Harus Melek Stunting (part 2-Tamat): Kiat Mencegah Stunting!