Antara Tempat Angker, Mantra 'numpang..numpang' dan Syirik yang Tersembunyi

Assalamu'alaikum mentemen

Mumpung inget, saya mau ngebahas sedikit tentang mantra numpang-numpang. Mentemen pernah denger gak? Well.. saya bingung juga sih mau menyebutnya apa, tapi biasanya mantra ini di rapalkan ketika kita merasa takut melewati sesuatu yang di anggap angker oleh banyak orang. Bunyinya kurang lebih kayak gini: numpang.. numpang mau lewat, jangan diganggu. Something like that deh.



Saya sendiri pertama kali mendengar mantra ini ketika saya kecil, di rumah kakek saya di Jogja. Waktu itu, saya lupa umur saya mungkin sekitar 8 atau 9 tahun. Saya yang waktu itu lagi ngabisin liburan sekolah  di Jogja, malem-malem kebelet pipis. Sebagai anak kecil yang lucu dan imut, pastinya saya takut kalo disuruh ke kamar mandi sendirian yang notabene lokasinya di luar rumah dan dikelilingi pepohonan cokelat yang gelapnya minta ampun. Saya yang nyalinya ciut akhirnya merengek minta dianterin pipis sama salah satu sanak saudara yang waktu itu sama-sama nginep di Jogja. 

"Numpang.. numpang.. anak bagong mau pipis.. jangan diganggu", ucapnya ulang-ulang begitu kami berdua keluar rumah. Waktu itu saya masih sedemikian kecilnya untuk protes dan bertanya kenapa saya disama-samain sama anak Bagong dan bagian mana dari saya yang mirip Bagong, tapi yang jelas mantra ini di rapalkan saat mengantar saya pipis malam itu.

Sampai saya beranjak dewasa pun, mantra numpang-numpang ini masih cukup ngetrend dan seringkali dihubung-hubungkan dengan kejadian gak enak yang terjadi setelah mengunjungi daerah tertentu. Kita tentu familiar dengan pembicaraan kayak gini,

"Pas kemaren lewat jembatan itu, Lo tau gak? motor si anu mati dan gak bisa distarter!"
"Makanya gue bilang juga apa, kalo lewat situ tuh permisi dulu, numpang-numpang biar gak di gangguin"

dan hal-hal semisalnya. Intinya kita dianjurkan untuk minta ijin sama 'yang punya wilayah' sebelum lewat biar aman, tentram dan damai.

Awalnya saya menganggap ini sesuatu yang wajar dan gak ada yang harus dipertanyakan. Tapi kemudian, sore tadi ketika membaca materi sirah nabawiyyah, saya tiba di suatu paragraf yang menceritakan kondisi Jazirah Arab di jaman Jahiliyyah alias di jaman sebelum Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam diutus, dimana kesyirikan merajalela.

Salah satu bentuk kesyirikan di masa itu, selain menyembah patung dan berhala, mereka juga meminta perlindungan kepada bangsa Jin. Diriwayatkan pada jaman itu, tatkala mereka melewati suatu lembah dan mereka takut jin-jin mengganggu mereka, maka mereka berkata "kami berlindung kepada pemimpin lembah ini supaya tidak diganggu oleh anak buahnya" Dan setelah mengucapkan hal tersebut, mereka merasa tenang hatinya. 

Sontak saya teringat dengan si mantra numpang-numpang ini, yang meskipun redaksinya berbeda tapi intinya kurang lebih sama, meminta perlindungan dari gangguan kepada si empunya tempat (pohon, jembatan, dll). 

And guess what? ini adalah bentuk kesyirikan, karena tanpa kita sadari, hati kita menjadi tenang setelah merapalkan mantra-mantra tadi. Dan ini adalah bentuk nyata bahwa kita telah bergantung kepada Dzat selain Allah. 

Yang kayak gini ini, syiriknya kagak nanggung-nanggung bro, syirik besar!

Alamak.

Terus begimana dong put kalo kita beneran takut digangguin bangsa jin kalo pas lewat tempat-tempat tertentu? bukannya jin dan syaitan itu beneran ada dalam Islam? Jawabannya tentu aja meminta perlindungan sama penciptanya para Jin tadi, siapa lagi kalau bukan Allah subhanahu wa ta'ala. 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Kholwah Binti Hakim As Sulamiyyah, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
Barangsiapa yang singgah di suatu tempat lantas ia mengucapkan “a’udzu bi kalimaatillahit taammaati min syarri maa kholaq (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya)”, maka tidak ada sama sekali yang dapat memudhorotkannya sampai ia berpindah dari tempat tersebut” (HR. Muslim no. 2708)



Nah.. ini baru bener. Jadi mulai sekarang kalau singgah di suatu tempat, ganti mantra numpang-numpang kita dengan doa diatas yaa.. lebih keren dan sesuai syariat pastinya. 

Intinya mah, kalau mau minta perlindungan jangan nanggung-nanggung, minta sekalian sama yang punya langit dan seisi bumi, jangan cuma sama penunggu satu tempat aja, apalagi sampe rela disama-samain sama anak Bagong, *eh

Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari segala bentuk perbuatan syirik ya. Aamiin. Terus belajar yuk mentemen, karena kalo gak belajar, sumpah kita gak akan tau mana-mana perbuatan kita sehari-hari yang ternyata melenceng dari Tauhid.

*referensi dan redaksi hadits dari:
  kajian BIAS Sirah Nabawiyyah Ustadz Firanda Andirja dan Rumaysho.com

Sumba Barat, 16 Januari 2018
XoXo






Komentar