Melaut Kembali di Riung 17 Pulau

Dermaga Riung pagi itu gak terlalu ramai, mungkin karena belum masuk musim liburan. Beberapa kapal yang terikat di tombak-tombak kayu yang ada di sepanjang dermaga tampak tenang, pertanda ombak pagi itu cukup bersahabat. Di kejauhan, langit dan laut memiliki warna biru yang nyaris sama sempurnanya. Agak sulit membedakan mana laut dan mana langit andaikata garis cakrawala di kejauhan tidak membagi mereka menjadi dua bagian.

Yep, pagi itu setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di Kabupaten Nagekeo, saya dan satu orang tim memutuskan untuk melaut sebentar di Taman Laut Riung 17 Pulau.

Nama tempat ini sebenernya gak asing. Mpe pernah bilang kalau tempat ini bagus banget. Mpe adalah satu diantara tiga pria, yang berempat sama saya, punya satu grup yang namanya Jenaka Outdoor. Jenaka Outdoor ini adalah usaha kecil-kecilan kita untuk nyewain peralatan camping yang kita punya daripada bulukan numpuk dirumah (check our page in here).

"Lu pokoknya mesti mampir ke Riung, Put" katanya di sela-sela farewell party satu hari sebelum saya berangkat ke Kupang untuk merantau, "Disana bagus banget, serius!" Saya cuma ngangguk-ngangguk sambil ngunyah pizza.

Yang saya gak tau waktu itu adalah... ternyata Taman Laut Riung 17 Pulau terletak di Kabupaten Ngada, salah satu dari 10 kabupaten dampingan tempat saya berkeliling untuk sebuah program kesehatan di NTT. Mungkin ini yang dibilang sama orang tua jaman dulu, kalo jodoh gak bakal lari kemana. 



Meskipun secara administratif terletak di Kabupaten Ngada, Riung 17 Pulau ini sebenernya lebih dekat di akses dari Kabupaten Nagekeo, 1 jam saja dari Mbay yang merupakan ibu kota kabupaten Nagekeo. Nah, saya yang waktu itu lagi ada jadwal tugas di Mbay jelas ileran berat untuk bisa mampir kesini. Maka, setelah ngantongin ijin extend dari program coordinator, saya dan tim meluncur dengan riang gembira ke Riung 17 Pulau.

Setelah membeli beberapa bungkus nasi dan air mineral, Pak Zakaria, nelayan yang perahunya kami sewa hari itu, mulai menyalakan mesin perahu, dengan ini, melaut pertama setelah hampir dua tahun absen dari laut, resmi dimulai.



Kembali ke laut adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Bagi saya, gak ada yang ngalahin excitement yang timbul dari bunyi ombak yang saling bersahutan dengan deru mesin perahu kayu. Kombinasi yang menimbulkan dorongan untuk jejeritan kegirangan. Sama seperti Tarzan waktu ia kembali pulang ke hutan, you know.. perasaan ingin auwouwooo.. uwouwo, semacam itu.

Tapi saya gak teriak auwouwo di atas kapal juga sih. Hahaha

Perahu nelayan yang kami tumpangi kemudian berhenti di perairan dangkal dimana terumbu karang terlihat jelas dari atas kapal. Saya segera menyambar peralatan snorkeling yang sedari tadi tergeletak di atas perahu, memakainya kemudian menceburkan diri ke air laut. Yess.. melaut belum lengkap tanpa snorkeling!

Di beberapa titik snorkeling, karang-karang tanduk berwarna kuning pucat tumbuh subur. Sayangnya, ikan warna-warni yang hilir mudik disana mendadak menjadi pemalu dan buyar dalam hitungan detik begitu saya mendekat dan mengarahkan moncong kamera ke arah mereka. Tapi, di satu spot snorkel, saya sempat bertemu dengan Marlin dan Nemo, sesaat setelah mereka keluar dari anemon. Kami juga sempat mengunjungi kerumunan kalelawar di Pulau Ontoloe. Oh, how cute!


Hi nemo! going out for school? 
kelelawar di Pulau Ontoloe

Dari beberapa pulau yang kami kunjungi di Riung, kami menghabiskan waktu paling lama di Pulau Rutong. Pulau yang menjadi primadona di Riung ini emang beneran keren sik. Pasir pantainya yang putih menjadi pemandangan pertama begitu kapal kami merapat di pulau Rutong ini.



Setelah mengambil beberapa foto pemandangan, Samsul, keponakan Pak Zakaria yang usianya sekitar 12 tahunan, mengajak kami menyusuri padang ilalang untuk seterusnya menaiki bukit untuk menikmati wajah pulau Rutong yang sesungguhnya. Kami berjalan tidak terlalu lama, mungkin sekitar 20 menit ditemani matahari flores yang luar biasa panas, TAPI.. apa yang terlihat dari atas bukit sebanding dengan kalori yang kami keluarkan untuk menaiki bukit ini.





Saya duduk di tepian tebing, memandang ke arah dimana pasir putih menyatu dengan warna biru dan hijau tosca air laut, sementara bunyi gesekan rumput-rumput kering yang diterpa angin bercampur dengan suara ombak dari bawah sana.

Saya pun bertanya-tanya ke diri saya sendiri, kenapa sebegitu senangnya kembali ke laut? Padahal saya gak punya warisan darah dari seorang nelayan atau pelaut, tempat tinggal saya semasa kecil pun berada ratusan kilometer dari pantai. Gak ada kenangan khusus atau time memento apapun baik dari masa kecil saya ataupun ketika beranjak dewasa, yang ada kaitannya dengan laut. Tapi menemukan jalan untuk kembali ke laut, terasa begitu menyenangkannya, sama seperti menemukan benda kenangan yang telah lama menghilang.

Tadinya saya berpikir, mungkin saya menyukai lautan karena beberapa alasan, entah karena warna birunya, bunyi ombaknya, angin pantainya atau hal-hal konyol seperti betapa menyenangkannya terkena percikan air yang berasal dari pecahan ombak yang menabrak lambung perahu, tapi kemudian saya berfikir.. maybe its simply in my blood.

because We are both, salt water mixed with air.


"Ayo kak, kita turun!" ajak Samsul. Bocah berusia 12 tahunan ini sudah berjalan menuruni tebing untuk kembali ke tempat dimana perahu kami bersandar. Saya bergegas mengikuti dari belakang sambil melipat kaki tripod kemudian memasukkannya ke dalam drybag. Sebelum turun, saya masih sempat melihat kembali wajah pulau Rutong dari atas bukit ini dan berharap, satu hari saya bisa menemukan jalan pulang kembali ke tempat ini.


XoXo



Komentar