Cinta Dalam Konteks Epidemiologi

Saya menulis ini tiga tahun lalu, ketika mengikuti kelas epidemiologi intermediet saat saya masih jadi mahasiswi master untuk jurusan public health. Waktu itu kuliah di buka dengan cerita tentang abad ke 19 atau sekitar tahun 1880-an dimana seorang dokter kelahiran Jerman, Robert Koch, melakukan beberapa penelitian tentang penyebaran penyakit melalui suatu agen infeksi. Hasil pemikirannya ini kemudian dikenal dengan yang namanya Postulat Koch.

Postulat Koch punya empat prinsip penting dalam menggambarkan sebab akibat kejadian penyakit:
  1. Agen infeksi harus selalu ada di tiap kejadian penyakit. Simpelnya adalah kuman A menyebabkan penyakit A, maka di setiap orang yang menderita penyakit A, harus ditemukan kuman A. Apabila kuman A hilang, maka penyakitnya akan sembuh
  2. Agen infeksi bisa diisolasi dari host (inang) yang terkena penyakit tersebut kemudian dikultur di media lain. Maksudnya adalah jika seseorang terkena penyakit A lalu diambil darahnya, maka kita bisa mengembangbiakkan kuman A di media yang lain, larutan agar-agar misalnya.
  3. Apabila hasil kultur tersebut dimasukkan ke orang yang sehat, maka akan timbul gejala penyakit yg sama. Ini cukup jelas yess.
  4. Agen infeksi tersebut dapat diperoleh kembali dari host yang telah di inokulasi. Artinya jika kita masukkan kuman A ke media yang baru, maka jika dilakukan ektraksi, maka hasil ekstraksinya juga si kuman A.
Singkatnya adalah, Postulat Koch ini menggambarkan teori monocausal dimana satu penyakit disebabkan oleh satu sebab yang sama.

Di tengah kegalauan antara kepingin tidur atau dengerin penjelasan tentang postulat ini, akhirnya saya mencoba menganalisa kemudian menerapkan postulat koch ini ke dalam satu penyakit yang seluruh orang di dunia ini pernah terinfeksi olehnya.

Penyakit apakah sik? Pilek??
No darling.. kita gak akan ngomongin penyakit yang bikin penampilan kita jadi gak keren dengan adanya lendir di hidung yang warnanya variatif itu. We're gonna talk about something more serious than that, penyakit yang lebih mematikan, lebih infeksius dan sering menimbulkan komplikasi kronis alias berkepanjangan. Namanya adalah penyakit cinta *tsaah



Setelah di analisa, Postulat Koch ini gak cocok diterapkan ke dalam penyakit cinta. Berikut penjabarannya.

Poin pertama dari Postulat Koch : 
Agen infeksi harus selalu ada di tiap kejadian penyakit. Contoh pertama, Agen infeksinya bernama "baik". Apakah setiap orang yang terinfeksi penyakit cinta, pasti mencintai orang yang baik? Gak juga. Buktinya Sherlock Holmes diem-diem nyimpen fotonya Irene Adler, perempuan yang jelas-jelas sering jadi suruhannya Prof. James Moriarty, pioner di dunia kejahatan sekaligus musuh bebuyutan Sherlock Holmes.

Poin pertama dari Postulat Koch ini juga bermakna apabila agen infeksi tersebut hilang, maka gejala penyakit juga menghilang. 

Kita sebut aja misalnya pinter masak sebagai agen infeksi dari penyakit cinta. Misalnya, ada orang yang jatuh cinta karena terserang agen infeksi yang namanya "pinter masak". Apakah jika kemampuan memasak ini hilang, penyakit cinta akan sembuh dengan sendirinya dari orang yang udah terinfeksi? belum tentu.

Poin Kedua dan Ketiga dari Postulat Koch : 
Agen infeksi bisa di isolasi dari host (inang) yang terkena penyakit tersebut, kemudian apabila di kultur di media lain maka akan menimbulkan gejala penyakit yang sama

Begini ilustrasinya. Udin lagi jatuh cinta sama Ida, anak kelas sebelah yang notabene satu-satunya murid yang bisa ngelarin persamaan logaritma super njelimet di ujian semester tahun ini. Nah.. seandainya, kepinteran si Ida diekstrak ke Ani sehingga Ani bisa ngerjain soal yang sama, apakah Udin juga akan jatuh cinta dengan Ani?. Jawabannya tentu tidak.

Poin Keempat dari Postulat Koch:
Agen infeksi tersebut dapat diperoleh kembali dari host (inang) yang telah diinokulasi. Maksudnya gini, misalnya pada kasus si Udin tadi, ketika kita inokulasi si Udin, artinya kita ekstrak lagi cintanya si Udin kepada Ida, kalo berdasarkan Postulat Koch, harusnya timbul agen infeksi bernama tingkat kepintaran

Tapi pada kenyataannya, setelah cinta si Udin ini diekstrak maka yang timbul bukan cuma karena kepintaran Ida aja, ternyata muncul juga agen infeksi lain, misalnya agen infeksi bernama "lesung pipit yang bikin senyumnya Ida tambah manis", "humoris", "ramah" dan agen-agen infeksi lainnya yang bikin si Udin terkena penyakit cinta.

Dari beberapa analisa ini, saya mengambil satu kesimpulan. Penyakit tidak bisa hanya disebabkan oleh satu faktor saja, termasuk penyakit cinta ini atau dalam konteks epidemiologi kita bisa bilang: Love is a multicausal disease

Itu kenapa pada perkembangan teori epidemiologi modern, postulat ini mulai ditinggalkan dan diganti dengan teori multicausal disease yang kita kenal dengan faktor predisposisi, faktor reinforcing dan faktor enabling dari penyebab suatu penyakit. 

Anyway.. ini yang saya pahami dari sesi Postulat Koch kemarin. Soal kayak begini bakalan keluar di UAS gak ya? Hahaha


XoXo



Komentar