Melewati Tiga Waktu Di Bukit Amelia, Labuan Bajo


"Waaaah asik banget sih bisa ke Labuan Bajo"

Ini adalah reaksi pertama dari orang-orang begitu tau saya lagi ada di Labuan Bajo.


Labuan bajo adalah ibu kota kabupaten Manggarai Barat, yang qodarullah, masuk ke dalam salah satu wilayah dampingan untuk program kesehatan ibu dan anak yang saat ini sedang saya kerjakan di provinsi NTT. Kota ini terkenal sampe ke penjuru dunia gak lain dan gak bukan karena kota ini merupakan pintu masuk utama bagi wisatawan yang mau melihat komodo, kadal purba yang kabarnya gak bisa ditemuin di tempat lain, kecuali di pulau komodo yang termasuk ke dalam wilayah administratif dari Kabupaten Manggarai Barat ini.

"Berarti lo udah liat Komodo dong put?"

Ini adalah reaksi kedua yang biasanya muncul. Reaksi ini adalah reaksi yang wajar mengingat tujuan utama dari setiap orang yang menjejakkan kaki di Labuan Bajo ini adalah untuk mendatangi pulau Komodo.

"Astaga, jadi lo belom pernah ke komodo? sayang bangeeeeet udah sampe sana"

Daaaaan.. ini adalah reaksi selanjutnya dari orang-orang begitu tau kalau saya sama sekali belum pernah ke pulau komodo. Iya. Setelah tujuh kali bolak balik ke Labuan Bajo dalam satu tahun terakhir -yes tujuh kali, kamu gak salah baca-  Saya. Belum. Pernah. Ke. Pulau. Komodo. 

Tapi tunggu dulu.. meskipun tiap kali kesini yang didatengin gak jauh dari dinas kesehatan ataupun puskesmas, paling gak, ada satu tempat lucu yang jadi pelarian saya kalau pulang dari puskesmas gak terlalu sore, Bukit Amelia Sea View namanya. Waktu tempuh dari Kampung Ujung -pusat kuliner Labuan Bajo- ke bukit ini cuma 10 menit naik ojek aja.

Sesuai dengan namanya, Bukit Amelia ini menawarkan pemandangan ke arah laut dari atas bukit kecil. Ada dua bukit yang saling berhadapan disini, satu bukit yang gak terlalu tinggi untuk didaki, dan bukit satunya lagi dengan ketinggian yang cukup lumayan untuk bikin bengek mendadak. Oiya. Bukit ini didominasi warna hijau ketika musim penghujan dan berubah cokelat ketika musim kemarau akibat rumput-rumput yang meranggas di terpa sinar matahari Flores yang luar biasa panas.


ini bukit yang rada pendek


ini bukit yang bikin bengek

Kata mas-mas penjaga hotel, sunrise dari bukit ini lumayan bagus, tapi ada juga yang bilang kalo justru sunsetnya yang lebih bagus. Biar adil, saya coba untuk hunting keduanya. Percobaan pertama adalah berburu sunset. Perburuan ini gagal total gegara dua alesan, pertama karena mendung dan yang kedua, saya datengnya terlalu cepat secara jam 5 saya udah nangkring di atas bukit, yang ujung-ujungnya bikin saya keburu males nungguin matahari tenggelam, dan akhirnya balik ke penginapan dengan foto yang seadanya.


mendung kelabu
sore hari di Bukit Amelia

Beberapa hari kemudian, sebelum check in ke bandara untuk seterusnya pulang ke Kupang, pagi-pagi saya udah meluncur kesana, meskipun sempet bad mood gegara babang ojeknya telat dateng, tapi paling gak pas sampai atas bukit, matahari masih nongol malu-malu dengan sinarnya yang berwarna kuning keemasan. Sejauh ini, saya lebih suka pemandangan bukit Amelia di pagi hari kayak gini. 





Dan, saking seringnya ke Labuan Bajo tapi belum bisa kemana-mana selain kesini, maka belum lama ini, saya iseng-iseng membuat percobaan ketiga, yaitu datang ke bukit Amelia ini pas matahari lagi terik-teriknya.  Ini percobaan yang beneran menguras tenaga, kebayang dong ya siang-siang bolong suruh nanjak-nanjak bukit, tapi perjuangan ini toh kebayar dengan pemandangan dari atas bukit Amelia yang cukup bagus karena teriknya matahari membuat gradasi warna air laut siang itu terlihat jelas.






Kalau menurut kamu, pemandangan dari atas bukit Amelia lebih bagus yang mana? pagi, siang atau sore? Berikan pendapat kamu di kolom komentar ya ^^

XoXo






Komentar