Lintas Selatan Malaka-Kupang part2 (tamat) : Uniknya Pantai Kolbano

Mobil yang disetiri Pak Sintus melaju cukup kencang menuruni bukit. Pantai Kolbano seolah dadah-dadahin saya dan Shanty dari kejauhan sementara Pak Sintus belum menjawab permintaan kami untuk berhenti sebentar di sana, bahkan ketika mobil melintas di sepanjang garis pantai Kolbano, belum ada tanda-tanda Pak Sintus mau berhenti. 

ih atuh si bapak mah

Tapi kemudian laju mobil menurun dan mobil pun mulai menepi di dekat sebuah pagar yang dibaliknya terbentang pantai dengan air yang berwarna biru menyala. "Disini?" tanya Pak Sintus sambil tersenyum simpul. Saya dan Shanty kegirangan. Tanpa dikomando, kami berdua pun langsung menghambur keluar begitu mobil berhenti dengan sempurna.

Siapa sih yang gak suka pantai? Serius. Kebanyakan manusia pasti menyukai tempat ini. Ada yang karena bunyi ombaknya, karena gradasi birunya atau yang hanya sekedar menyukai berjalan-jalan di atas pasirnya yang lembut.
Nothing soothes the soul like walking on the beach and feel the sand between your toes
Sebuah kutipan yang menggambarkan betapa berjalan-jalan di atas pasir pantai bisa mendamaikan jiwa. Tapi sayangnya, kutipan ini, sumpah, gak berlaku di Pantai Kolbano karena berbeda dengan kebanyakan pantai pada umumnya yang berpasir lembut, pantai Kolbano justru dipenuhi oleh batu-batu bulat yang ukurannya beragam, mulai dari seukuran uang logam sampai sekepalan tangan orang dewasa. Jadi, kebayang dong yaa.. kalau berjalan di atasnya tanpa alas kaki, boro-boro damai, yang ada malah bikin kaki kita nyut-nyutan.

Tapi justru! bebatuan inilah yang menjadi daya tarik utama dari Pantai Kolbano. Warnanya yang beragam menjadi pelengkap gradasi memukau dari birunya air laut. 



Dari apa yang saya baca di beberapa artikel geologi, bebatuan yang ada di pantai seperti ini berasal dari reruntuhan tebing-tebing karang yang hanyut terbawa ombak yang kemudian terbentuk membulat sedemikian rupa oleh arus dan ombak di lautan. Mineral yang terkandung di dalamnya yang kemudian menentukan dominasi warna dari si batu ini.


Saya mencoba mencari artikel yang menjelaskan kenapa di satu tempat pantainya berbatu sementara di tempat lainnya berpasir, but i couldn't find any. Tapi yang jelas, pantai berbatu katanya merupakan pantai dengan kepadatan makroorganisme yang tinggi dibandingkan dengan pantai berpasir atau berlumpur. Sayangnya, matahari siang itu terlalu panas untuk saya mengamati apakah ada binatang-binatang kecil yang berlarian di antara tumpukan batu-batu ini atau tidak.

Selain unik dan eyecatchy, batu-batuan ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi penduduk sekitar. Dengan bermodalkan karung, mereka biasa mengumpulkan batu demi batu untuk dijual ke pengepul. Batu-batu ini biasanya dikirim ke Kupang bahkan sampai ke pulau Jawa untuk berbagai keperluan. Saya kurang tau apakah kegiatan tambang menambang ini legal atau gak, tapi yang jelas, insting saya bilang untuk gak jeprat jepret foto sembarangan terkait penambangan ini.

Pantai Kolbano juga tergolong pantai yang masih alami alias belum banyak pembangunan yang aneh-aneh. Bahkan bangunan yang ada di pinggir pantai Kolbano ini hanyalah satu pendopo sederhana yang beratapkan daun ilalang. Selebihnya hanya pohon-pohon dan seonggok batu besar yang di kenal dengan nama Fatu Un. Batu Fatu Un ini biasa dinaiki -dan sayangnya juga dicoreti- oleh para wisatawan yang datang. Mereka biasa mengambil foto garis pantai Kolbano dari atas batu ini. Saya yang saat itu memakai kostum yang sangat gak panjat-able, memutuskan untuk menikmati garis pantai Kolbano dari bawah saja sementara Shanty asik berfoto ria dengan dua anak kecil berkulit gelap yang sedari tadi ada di pinggir pantai.

Shanty, Fatu Un dan adik kecil yang bantu foto-foto

Sayangnya, saya dan Shanty tidak bisa menghabiskan waktu terlalu lama di pantai ini, karena masih ada 135 kilometer lagi yang harus kami tempuh untuk sampai ke Kota Kupang. Meskipun sebentar, ketika menulis postingan ini, saya masih ingat dengan jelas landscape pantai berikut dengan suara merdu yang dihasilkan ombak ketika bertabrakan dengan tumpukan batu di Pantai Kolbano siang itu. Ah.. Those happines!




Dan seperti yang John F Kennedy pernah bilang di dalam pidatonya di tahun 1962, 

All of us have in our veins the exact same percentage of salt in our bloof that exist in the ocean, therefore, we have salt in our blood, in our sweat, in our tears. We are tied to the ocean. And when we go back to the sea, whether it is for sail or to watch it, we are going back from whence we came.

Saya selalu suka kembali ke lautan. Selalu.


XoXo

Komentar