Lintas Selatan Malaka-Kupang (part1): Lintas Selatan Pulau Timor Memang.. BEDA!

Jika ditawari mau lewat darat dengan perjalanan berjam-jam atau lewat udara yang cuma 40 menit dengan harga yang gak beda jauh, mungkin kebanyakan orang akan memilih rute udara. 

Iya. Terlepas dari harga tiketnya yang cenderung lebih mahal dari perjalanan darat, pesawat udara seringkali menjadi pilihan utama banyak orang terlebih untuk orang yang ingin menghemat waktu dan tenaga, "gak papa lah mahal dikit, yang penting cepet nyampe", begitu alasan yang sering terdengar. Tapi tidak untuk saya, opsi perjalanan darat adalah opsi utama yang sayang kalau dilewatkan begitu saja, seperti siang itu.



antara Malaka-Kupang

Setelah tiga malam menginap di kota Betun, ibu kota Malaka untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, saya dan Shanty menempuh perjalanan darat untuk kembali ke kosan tercinta di Kota Kupang. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 5 jam. Perjalanan Malaka-Kupang sebenarnya bisa ditempuh via udara melalui bandara di Kota Atambua. Meskipun penerbangannya gak sampai 1 jam dan dengan harga tiketnya yang cukup murah, saya tetap gak tergiur dan lebih memilih rute darat menuju Kupang.


Perjalanan darat memang memiliki excitement tersendiri bagi saya, apalagi kalau bisa duduk di kursi sebelah jendela seperti siang ini. I dunno.. somehow saya jatuh cinta dengan kombinasi sempurna antara angin, pemandangan dan cemilan. Ada semacam perasaan damai daaaan..perasaan kenyang pastinya haha.


"Pak, sepi banget. Tapenya bisa diputer gak pak?" tanya Shanty dari kursi belakang.


"Bisa..bisa" jawab pak Sintus sambil menekan tombol on.

Tidak berapa lama, lagu-lagu country lawas berselingan dengan lagu khas Timor mengalun cukup keras dari tape di dalam mobil. Saya membuka jendela kaca lebar-lebar membiarkan angin masuk menerobos dan memainkan kerudung berwarna abu-abu yang saya kenakan, sementara pak Sintus tampak tenang mengendalikan kemudi sambil sesekali bersenandung. Tubuhnya yang gempal sepertinya tidak terganggu dengan hawa panas di luar sana, beda banget sama saya yang grasa-grusu kegerahan. Cuaca siang itu memang cukup panas meskipun gumpalan awan-awan putih berserakan di langit.



"Panas banget ya pak" saya membuka obrolan. "Padahal di Kupang udah mulai ujan lho pak"
Pak Sintus tertawa, "disini ujannya memang lebih telat dibanding di Kupang, mbak"
"Oya pak? masa sih?"
"Iya" tambahnya "kalo di Ostrali ujan, disini baru ujan".
"Ooo.." jawab saya manggut-manggut meskipun gak ngerti apa hubungannya antara musim ujan di Ostrali sama di Pulau Timor ini.

Anyway, rute dari Malaka menuju Kupang sebenarnya terbagi menjadi dua, yang pertama adalah rute via Kefamanu dan Soe, dan yang kedua adalah via Kolbano. Siang itu, Pak Sintus membawa kami melintasi rute kedua, yang ngetop dengan istilah rute pantai selatan pulau Timor.

Rute ini dulunya kurang diperhatikan alias jalanannya rusak parah, makanya dahulu banyak orang yang lebih memilih rute pertama meskipun waktu tempuhnya lebih lama 3 jam-an dibandingkan dengan rute lintas selatan ini. Namun sejak Kabupaten Malaka terbentuk di tahun 2013, rute ini mulai diperbaiki sebagai akses utama dari Betun menuju Kupang.


Saya masih inget pertama kali ke Malaka, ada satu tanjakan yang jalanannya rusak parah tapi kemarin jalanannya sudah diaspal mulus, saking mulusnya sampe saya gak ngenalin kalo ini adalah tanjakan yang sama, yang bulan Februari lalu membuat saya banyak berdzikir saking berbatu dan curamnya. Saat ini, jalanan berbatu hanya ditemukan ketika melintasi Boking saja, selebihnya hampir seluruh rute telah beraspal mulus.



mulus kan?


Sebelumnya, saya pernah dua kali menempuh perjalanan ke Malaka-Atambua via Kefa dan Soe, dan jujur.. saya lebih suka jalur lintas selatan. Selain dari waktu tempuhnya yang lebih singkat, rute lintas selatan pulau Timor ini adalah rute cuci mata! Well.. Apakah ini berarti akan ada oppa-oppa kece yang berjejer di sepanjang jalan ? Oh. Tentu tidak.. tapi di rute ini kita bisa ngeliat perbukitan yang menyatu dengan garis pantai bergradasi biru yang kece badai.


"Mau berhenti disini?" tanya Pak Sintus yang seolah ngerti kalo saya dan Shanty udah ileran kepingin moto-moto. Dan kami pun berhenti di sebuah tikungan yang punya pemandangan sekeren ini.





Rute lintas selatan pulau Timor memang didominasi pemandangan yang mengarah ke laut. Wajar saja, karena jalanannya memang dibangun di atas bukit berjurang yang berbatasan langsung dengan laut. Untungnya, Pak Sintus sudah terbiasa dengan model jalanan disini, dengan santai ia memacu kendaraan di tengah belokan dan tikungan tajam yang naik turun.

"saya kalau lewat sini, lebih baik nyetir daripada disupiri, mbak" celetuk Pak Sintus
"kenapa om? takut ya?"
"Iya mbak, jalanan kayak gini, kalo gak biasa, bisa bahaya!" tegasnya. "'kan mati gaknya penumpang, supir juga yang ikut nentuin"

ebuset si bapak, horor gini obrolannya. 

Tapi memang bukan tanpa alasan sih Pak Sintus bilang begitu, soalnya driver yang nganter kami pas berangkat kemarin sempat cerita kalau belum lama ada truk terbalik di salah satu tanjakan tajam di rute ini.



awas ada tikungan
tikungannya berbatasan langsung sama jurang


eh jurangnya kece ternyata haha

Saya sempat tertidur beberapa kali dan mobil pun sempat berhenti beberapa kali, entah karena saya dan Shanty yang merengek minta turun untuk mengambil gambar pemandangan yang spektakuler, atau Pak Sintus yang didera ngantuk dan terpaksa berhenti sebentar, yang jelas begitu memasuki area Kolbano, hamparan pantai terpajang jelas dari bukit tempat mobil kami melintas.




Demi ngeliat pantai sekece ini, Shanty jejeritan kegirangan dari kursi belakang, sementara saya mulai melobi Pak Sintus agar mau mampir sebentar, 


"Om, kita berhenti sebentar ya om, di situu" bujuk saya sambil menunjuk ke arah pantai Kolbano. Pak Sintus diam, gak bilang 'iya' juga gak bilang 'gak', matanya lurus ke depan ke arah jalanan. Saya yang pada dasarnya punya sifat gak enakan, jelas jadi bertanya-tanya dengan diamnya si bapak.


si bapak gak denger apa ya? apa jangan-jangan si bapak lagi buru-buru makanya gak mau ngeladenin permintaan kita? atau si bapak keki gegara kita kebanyakan minta berhenti?


Apakah Pak Sintus akhirnya mau nurutin permintaan saya dan Shanty? seperti apa kelanjutan ceritanya? tunggu di postingan berikutnya yaa ^^


XoXo



Komentar